Membuktikan bahwa fotosintesis pada tanaman air Hydrilla verticillata menghasilkan gas oksigen — diamati lewat gelembung yang naik dan terkumpul dalam tabung reaksi.
Prinsip kerjanya sederhana: jebak gas hasil fotosintesis di ruang tertutup, lalu amati volumenya dari waktu ke waktu.
Tanaman Hydrilla dimasukkan ke dalam gelas beker berisi air.
Rangkaian ditutup dengan corong kaca terbalik, membuat ruang tertutup di atas tanaman.
Di atas corong diletakkan tabung reaksi terbalik yang diisi air penuh, tanpa menyisakan rongga udara.
Rangkaian diamati; gelembung gas naik dan terkumpul di ujung tabung reaksi.
Keberhasilan fotosintesis diukur dari munculnya gelembung udara yang naik dan terkumpul di ujung atas tabung reaksi — makin banyak gelembung, makin aktif proses fotosintesis berlangsung.
Rangkaian yang sama diuji pada enam kondisi lingkungan berbeda untuk melihat faktor apa saja yang memengaruhi laju fotosintesis.
| Perlakuan / Kondisi | Jumlah Gelembung | Analisis & Alasan |
|---|---|---|
| Tempat terang (matahari langsung) | Sangat banyak | Intensitas cahaya tinggi memicu klorofil bekerja maksimal. |
| Tempat teduh / indoor | Sedikit | Fotosintesis terhambat karena kekurangan energi cahaya. |
| Tempat gelap total | Tidak ada | Tanaman tidak dapat berfotosintesis tanpa adanya foton cahaya. |
| Air hangat (30–40 °C) | Banyak | Suhu optimal meningkatkan kerja enzim fotosintesis. |
| Air es / dingin | Sangat sedikit | Enzim fotosintesis menjadi tidak aktif pada suhu rendah. |
| Ditambah NaHCO₃ (baking soda) | Paling banyak | NaHCO₃ larut dan melepaskan CO₂ berlimpah di dalam air. |
Gelembung gas yang terkumpul di ujung tabung reaksi terbukti merupakan gas oksigen (O₂), hasil sampingan dari proses fotosintesis.
Tanpa adanya radiasi cahaya, reaksi fotolisis (pemecahan molekul air) tidak akan terjadi, sehingga tidak ada gelembung yang dihasilkan.
Laju fotosintesis sangat bergantung pada kadar karbon dioksida (CO₂) sebagai bahan baku, serta suhu lingkungan yang memengaruhi kinerja enzim internal tanaman.